TUGAS 5
1. CARILAH INFORMASI TENTANG MOTIVASI, FRUSTASI DAN KONFLIK?
a. motivasi
Motivasi adalah keadaan dalam diri individu yang memunculkan, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Dengan kata lain menurut Kartini Kartono adalah dorongan terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan (driving force) di sini dimaksudkan: desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup.
Sedangkan menurut Muslimin motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh organisasi.
Untuk menghindarkan kekurangtepatan penggunaan istilah motivasi ini, perlu dipahami pendapat M. Manullang tentang adanya istilah-istilah yang mirip dan sering dikacaukan tentang motivasi tersebut antara lain: motif, motivasi, motivasi kerja, dan insentif.
a. Motif
Kata motif disamakan artinya dengan kata-kata motive, motif, dorongan, alasan dan driving force. Motif adalah daya pendorong atau tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia yang menyebabkan manusia bertindak. Dikatakan bahwa rumusan yang berbunyi motive are the way of behaviour adalah tepat. Artinya, mengapa timbul tingkah laku seseorang, itulah motive.
b. Motivasi
Motivasi adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan (energy) yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan. Oleh karena itu tidak akan ada motivasi, jika tidak dirasakan rangsangan-rangsangan terhadap hal semacam di atas yang akan menumbuhkan motivasi, dan motivasi yang telah tumbuh memang dapat menjadikan motor dan dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan atau pencapaian keseimbangan.
c. Motivasi kerja
Bertolak dari arti kata motivasi tadi, maka yang dimaksud dengan motivasi kerja adalah sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja. Atau dengan kata lain pendorong semangat kerja. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kerja menurut Ravianto adalah: atasan, rekan sekerja, sarana fisik, kebijaksanaan dan peraturan, imbalan jasa uang dan non uang, jenis pekerjaan dan tantangan. Jadi motivasi individu untuk bekerja sangat dipengaruhi oleh sistem kebutuhannya
b.frustasi
Di dunia ini banyak pilihan yang tampak benar oleh kita tetapi terkadang lupa kita pikirkan manfaat dan ruginya, padahal tidak semua pilihan yang tampak benar itu bermanfaat pula buat kita. Contoh paling dekat di sini, misalnya saja kita pernah terkena pukulan dahsyat oleh keadaan buruk masa lalu yang di luar kontrol kita sampai membuat kita ambruk, terkapar dan benar-benar gelap.
Hal yang paling pantas untuk dikatakan adalah kira-kira bahwa pukulan dahsyat demikian memang benar membuat orang mengalami luka batin serius, trauma, frustasi, distress, atau paling kecilnya adalah bingung dan merasa tak berdaya. Meskipun pilihan ini sepertinya tampak benar dan tampak wajar (manusiawi) oleh kita, namun jika ini berlanjut dalam kurun waktu yang lama, apalagi kita abadikan dalam ruang batin kita, maka yang menjadi masalah bukan benar-salah, melainkan apa untungnya dan apa ruginya buat kita.
Karena dunia yang memukul kita itu tampaknya tak menaruh peduli dengan untung-ruginya kita dengan pilihan kita, maka di sinilah perlunya kita memikirkan pilihan (response) yang menggunakan pertimbangan manfaat dan kerugian bagi kita (advantage annd disadvantage), bukan semata-mata menggunakan pertimbangan salah-benar (right and wrong) menurut versi kita berdasarkan ke-manusiawi-an kita.
c. konflik
pertimbangan demikian sangat kita butuhkan agar kita tidak menjadi orang yang menderita “double trouble” (kesulitan ganda) oleh keadaan-buruk yang memang sudah nyata-nyata memberikan “trouble” buat kita. Syukur-syukur kita bisa menjadi orang yang lebih tercerahkan Sumber-sumber konflik
Pada umumnya konflik dalam organisasi terjadi jika ada dua atau lebih pendapat yang berbeda atau bertentangan yang tidak dapat dikompromikan. Jika masing-masing pihak tetap ngotot pada pendapatnya sendiri atau kelompoknya maka konflik itu akan berkepanjangan dan bisa membuahkan perpecahan yang merugikan. Walaupun tidak ada perpecahan sekalipun dalam organisasi itu, jika konflik belum teratasi dengan tuntas maka akan terjadi hambatan-hambatan dalam bekerjasama. Hasil yang diharapkan organisasi tersebut tentunya tidak maksimal. Gereja, sebagai organisasi, tidaklah kebal terhadap masalah konflik ini.
Peter Wiwcharuck menggambarkan gereja, sebagai hasil risetnya, dengan “grafik lonceng.” Dia memberi nama “Bell Curve” seperti ini:
Artinya, bahwa gereja-gereja di seluruh dunia cenderung pada gambar di atas. Sepuluh persen anggota gereja sangat aktif dan penuh dedikasi, sepuluh persennya lagi sangat pasif, bahkan cenderung menjadi oposan, suka mengeritik melulu; sedang yang delapan puluh persennya adalah penonton. Konflik sering terjadi antara kelompok yang sepuluh persen itu, dan sedihnya kelompok ini berusaha mempengaruhi yang 80% sisanya.
2.APA YANG DIMAKSUD DENGAN KEPRIBADIAN, DAN BAGAIMANA CARA MENGUKURNYA?
menurut q kepribadian itu mencakup karakteristik, tingkah laku cara berfikir
kepribadian mulai terbentuk dari saat anak dapat mengenal dan menilai lingkuangan, jadi dasar pembentukan kepribadian dimulai dari keluarga. bagaimana sikap dan cara bicara orang tua, tingkah laku orang tua saat marah,
setelah dari keluarga baru meluas ke lingkungan sekitar rumah tinggal, sekolah dst.
kepribadian juga dapet terbentuk dengan memberikan pemahaman yang baim tentang ajaran agama sehingga dapat menyaring mana yang baik dan buruk
cicri2 kepribadian buruk : egois, cepat marah, mudah tersinggung, iri hari
baik : suka menolong, jujur, menghargai orang lain dsb.
kepribadian dapat berubah drastis jika orang tersebut mengalami suatu kejadian yang sangat ekstrim/ menguncang jiwanya misal : meninggalnya orang yang sangat dicintai, dikhianati oleh orang yang sangat dipercayai.
jika seseorang mempunya masalah kepribadian biasanya akan berpengaruh dengan kehidupan sosial dan akan sulit berinteraksi dengan orang yang ada didekatnya. Hubungan Kepribadian dengan Jasmani?
-Hubungan Kepribadian dengan Cinta dan Ambisi?
-Hubungan Kepribadian dengan Karisma?
itu semua berhubungan karna orang akan dapat melihat aura yang terpancar, rasa damai saat didekat orang tersebut, rasa dapat mempercayai jika dia mempunyai kepribadian yang baik dan sebaliknya
-Tips menjaga kepribadian baik? memperdalam ajaran agama, gemar menolong, mengucap syukur, tinggal dilingkungan yang baik dan mendukung
apa yg dimaksud dengan kepribadian ?
kepribadian adalah citra seseorang yang mencirikan sebuah pribadi
Tahap kepribadian ?
kepribadian sudah tercipta sedari kecil, dapat berubah sewaktu-waktu, seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman
hal yg dpt membentuk kepribadian ?
lingkungan (keluarga, teman, dll), faktor genetik, faktor makanan, minuman dan obat2an dll
ciri2 kepribadian yg baik dan buruk ?
cara membedakannya ialah dengan berinteraksi dengannya, lalu apa yang anda rasakan setelah itu.
hal yg dapat merubah kepribadian scr drastis ?
masalah, kejadian besar, kesehatan, dll
kepribadian unik ?
ialah kepribadian yang tidak umum, sifatnya bisa baik atau malah sebaliknya...contohnya kebribadian ganda
kepribadian, sosialisasi, jasmani, ambisi dan karisma ?
their all connecting my friend, contoh : si A di SMP sangat pendiam karena teman2nya udah cablak, ketika SMA dia malah jadi periang mungkin karena teman2nya justru malah pendiam dst dst...
kepribadian jg terbentuk dari pengalaman2, tentang cinta, pertemanan, dsb...
kepribadian mempengaruhi kesehatan, dan kesehatan juga punya andil membentuk kepribadian itu sendiri...nah lo...
kepribadian memancarkan citra diri yang dapat membuat orang lain bersikap hormat kepadanya
tips tentang kepribadian ?
bergaul dengan org2 berkepribadian baik, tetap bercermin atau evaluasi diri
SALAH satu masalah yang kerap menjadi pertanyaan banyak manusia mungkin adalah tentang kepribadian. Kerap kita dengar orang bertanya 'Saya ini siapa sih?', 'Saya orang yang seperti apa ya?', atau pada beberapa orang lain pertanyaan yang diajukan adalah 'Kenapa saya bisa seperti ini ya?'
Di bidang psikologi, teori-teori kepribadian cukup banyak dan masing-masing memiliki pendukung maupun penentangnya. Misalnya saja teori kepribadian Freud yang mengatakan perilaku manusia (tindakan, pikiran, perasaan, dan aspirasi) ditentukan kekuatan insting, yang didominasi dorongan seks dan agresivitas. Seperti kenapa seseorang menjadi pencemas karena adanya sejumlah faktor yang berasal dari alam ketidaksadaran.
Freud juga mengatakan kepribadian memiliki tiga struktur, yaitu id, ego, dan superego. Tentu saja teori itu kemudian ditentang banyak pihak karena seolah-olah menyatakan manusia itu tidak mampu mengembangkan dirinya sendiri. Kalangan lain meyakini kepribadian merupakan sebuah sistem terbuka dan selalu mengalami perkembangan. Sampai sini lalu mulai muncul pertanyaan apakah kepribadian itu sesuatu yang menetap atau berubahubah.
Penggolongan manusia dalam berbagai jenis kepribadian sudah terjadi sejak lama.
Tentang kepribadian
Kepribadian dalam bahasa Inggris adalah personality. Kata itu diyakini berasal dari bahasa Latin persona. Awal digunakan, kata ini berarti topeng-topeng yang dipakai para pemain dalam dramadrama Yunani. Namun, akhirnya berkembang menjadi peran-peran yang dimainkan para tokoh dalam drama tersebut. Memang konsepsi awal tentang kepribadian adalah citra sosial yang sifatnya dangkal (superficial social image), yang diadopsi seseorang dalam drama kehidupan. Misalnya saja, orang mengatakan si X orang yang menarik, populer, keren, mudah bergaul, dan sebagainya.
Kepribadian kemudian juga dilihat sebagai karakteristik dominan yang ada pada diri seseorang, seperti kepribadian agresif, pemalu. Memang banyak orang lalu menggolongkan ciri-ciri ini dalam kategori kepribadian baik atau jelek. Misalnya kepribadian agresif tidak baik, tapi kepribadian tenang baik. sebenarnya, para psikolog kepribadian hampir tidak pernah membuat sebuah evaluasi atas kepribadian. Mereka melihat kepribadian sebagai suatu hal yang netral. Banyak sekali tokohtokoh yang mengemukakan definisi mereka tentang apa itu kepribadian, dan semua definisi ini sangat bergantung pada teori kepribadian apa yang dibangun.
Adalah benar bahwa sampai saat ini belum ada satu kesepakatan pun mengenai kepribadian manusia itu seperti apa. Tak mengherankan jika seorang Victor Frankl sampai pernah mengatakan tantangannya sekarang adalah menyatukan kepingan-kepingan puzzle pemikiran tentang manusia yang saat ini berserakan sehingga menjadi sesuatu yang bermakna.
Jika Anda punya waktu dan iseng-iseng mencari tahu pengertian kepribadian di internet, akan Anda temui sekitar 930 ribuan definisi. Terserah Anda mau menggunakan yang mana, pada akhirnya kepribadian merupakan suatu hal yang bisa membedakan satu orang dengan orang lainnya. Kepribadian juga mengacu pada sejumlah aspek yang relatif permanen pada diri seseorang. Dengan demikian, setiap orang dapat dikatakan unik, bahkan antaranak kembar sekalipun. Dan keunikan ini relatif tidak berubah dari waktu ke waktu. Kepribadian bagaikan sidik jari psikologis seseorang.
Sebuah teori lain, teori gunung es kepribadian (The Institute of Motivational Living Inc, 2004), menyatakan kepribadian kita yang asli akan muncul pada saat kita berada dalam tekanan. Dalam situasi normal, kebanyakan orang akan menampilkan sisi baik dari dirinya demi sopan santun ataupun pembentukan citra diri. Bagian gunung es yang muncul di atas permukaan laut itulah yang dikenal sebagai kepribadian dan berjumlah sekitar 5%. Sementara itu, bagian gunung es yang berada di bawah permukaan laut (sebesar 95%) disebut sebagai character & temperament. Karakter menunjukkan respons kita terhadap tekanan, sementara temperamen memperlihatkan siapa kita sesuai dengan faktor-faktor bawaan lahir kita.
Terbentuknya kepribadian
Dulu orang berpendapat bahwa kepribadian ditentukan faktor keturunan atau bawaan. Jika orang tuanya seorang pemarah, besar kemungkinan anaknya juga akan menjadi anak pemarah. Namun, pendapat ini kemudian dipertanyakan itu banyak pihak.
Pendapat yang kemudian berkembang adalah bahwa kepribadian merupakan hasil bentukan lingkungan. Faktor-faktor di luar diri seseorang (seperti pola asuh orang tua, pendidikan guru, perlakukan masyarakat sekitar, nilai yang ditanamkan, dan sebagainya) diyakini sangat berperan dalam membentuk kepribadian seseorang.
Boeree mengatakan kepribadian terbentuk oleh tiga faktor, yaitu keturunan, lingkungan, dan situasi. Dan lebih dari itu, interaksi ketiga faktor tadi terjadi dalam tiga fase transisi yang menentukan bagi setiap orang, yaitu fase bayi, remaja, dan dewasa. Pandangan yang menyatakan kepribadian merupakan hasil interaksi beberapa faktor merupakan pandangan yang banyak disetujui banyak orang belakangan ini. Meski begitu, ada juga yang menyatakan setuju pada teori interaksi ketiga faktor tersebut, dengan tetap menganggap keturunan sebagai faktor yang dominan.
Mengukur kepribadian
Seperti pengukuran variabelvariabel psikologis lainnya, pengukuran kepribadian juga dapat dilakukan melalui pengamatan, wawancara ataupun pengisian alat ukur tertentu. Alat ukur yang biasa digunakan untuk mengetahui kepribadian seseorang adalah inventori. Alat ini berisikan sejumlah pertanyaan dan pengisi menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai dengan kondisi dirinya. Setelah diisi, inventori ini kemudian di nilai dengan cara tertentu sehingga akhirnya didapatkan gambaran tentang kepribadian pengisi.
Aspek yang diukur oleh tiap inventori berbeda-beda. MBTI misalnya, mengukur empat dimensi dari kepribadian seseorang. Dimensi pertama mengukur sumber energi yang membuat seseorang hidup: extraversion (berasal dari luar dirinya) atau intraversion (berasal dari dalam dirinya). Orang yang ekstrover mendapatkan energinya bila ia menjadi pusat perhatian, berdiskusi dengan orang lain, dan sebagainya. Orang introver akan lebih berenergi bila banyak kesempatan untuk membuat perenungan, kesendirian, dan sebagainya.
Dimensi kedua dari MBTI mengukur bagaimana seseorang memahami sesuatu secara alami.
Dimensi ketiga mengukur bagaimana seseorang mengambil keputusan.
Dimensi keempat mengukur
3.JELASKAN YANG ANDA KETAHUI TENTANG INTERAKSI SOSIAL?
pakah tindakan sosial itu?
Oleh : Achmanto Mendatu
Apakah arti sosial?
Sosial adalah keadaan dimana terdapat kehadiran orang lain. Kehadiran itu bisa nyata anda lihat dan anda rasakan, namun juga bisa hanya dalam bentuk imajinasi. Setiap anda bertemu orang meskipun hanya melihat atau mendengarnya saja, itu termasuk situasi sosial. Begitu juga ketika anda sedang menelpon, atau chatting (ngobrol) melalui internet. Pun bahkan setiap kali anda membayangkan adanya orang lain, misalkan melamunkan pacar, mengingat ibu bapa, menulis
Sekarang, coba anda ingat-ingat situasi dimana anda betul-betul sendirian. Pada saat itu anda tidak sedang dalam pengaruh siapapun. Bisa dipastikan anda akan mengalami kesulitan menemukan situasinya. Jadi, memang benar kata Aristoteles, sang filsuf Yunani, tatkala mengatakan bahwa manusia adalah mahluk sosial, karena hampir semua aspek kehidupan manusia berada dalam situasi sosial.
Apakah tindakan sosial?Tindakan sosial adalah bagian dari perilaku sosial. Oleh sebab itu mula-mula harus didefinisikan dulu apa yang dimaksud dengan perilaku sosial. Perilaku sosial adalah perilaku yang terjadi dalam situasi sosial, yakni bagaimana orang berpikir, merasa dan bertindak karena kehadiran orang lain. Pertama, berpikir dalam situasi sosial. Apa yang anda pikirkan ketika bertemu seseorang bertubuh tinggi besar, berewokan, berkulit hitam legam, bermantel tebal? Apa yang anda pikirkan saat kekasih anda mengingkari janji? Apa yang anda pikirkan saat teman anda mendapatkan promosi kenaikan jabatan? Apapun yang ada dalam benak anda , anda pasti memikirkan!
Kedua, merasa dalam situasi sosial. Harus diakui, sebagian besar situasi sosial melibatkan perasaan. Coba anda bayangkan kembali perasaan anda saat berda dalam situasi sosial tetentu. Apa yang anda rasakan saat membayangkan sang kekasih? Apa yang anda rasakan saat menyaksikan pembunuhan sadis? Apa yang anda rasakan saat bertemu dengan orang yang pernah mencelakai anda?
Ketiga, bertindak dalam situasi sosial. Inilah langkah kongkret anda yang bisa dilihat orang lain dalam situasi sosial. Mungkin anda menolong orang yang jatuh dari sepeda motor. Mungkin anda mengajak bersalaman dan berkenalan dengan orang yang baru anda temui. Mungkin anda memaki orang yang menyusahkan anda. Mungkin anda menyebarkan kebohongan. Mungkin anda mendatangi undangan pernikahan, atau yang lainnya. Sangat beragam bentuk-bentuk tindakan sosial manusia.
Tindakan sosial sangat dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan atau emosi. Tidak ada tindakan sosial yang terjadi tanpa pengaruh keduanya. Oleh karena itu, meskipun buku ini khusus membahas tindakan sosial manusia, baik pikiran maupun emosi yang mempengaruhi tindakan sosial juga akan dikupas secara berbarengan.
Apakah situasi-situasi sosial manusia?
Apa yang dimaksud sosial telah dibahas diatas, yakni adanya kehadiran orang lain baik secara nyata maupun imajiner. Jika lebih diperinci, maka terdapat sekurangnya empat bentuk situasi sosial. Pertama, adanya kehadiran orang lain yang dapat diindra namun tanpa interaksi. Misalnya anda pergi ke perpustakaan. Disana duduk seseorang yang sedang membaca sendirian. Pada saat itu tidak ada interaksi apapun. Si dia bahkan mungkin tidak menyadari kalau anda ada disana. Namun sepanjang anda menyadari kehadirannya, maka itu disebut situasi sosial karena kehadiran orang itu secara otomatis telah mempengaruhi anda. Sebelumnya anda merasa sendirian, lalu anda tidak lagi merasa sendirian. Boleh jadi anda juga membuat penilaian tentangnya berdasarkan penampilannya. Mungkin anda menilainya kutu buku jika berkacamata tebal dan tekun di depan buku.
Banyak situasi sosial terjadi tanpa interaksi seperti diatas, namun pengaruhnya nyata bagi anda. Anda melihat orang naik mobil ngebut di jalan raya, anda lantas memaki dalam hati. Anda melihat pengemis di kejauhan, anda lantas merasa kasihan padanya. Anda mendengar ada suami istri bertengkar dijalan, lantas anda menyimpulkan mereka bukan pasangan berbahagia.
Kedua, adanya kehadiran orang lain yang dapat diindra dan ada interaksi dengannya. Istilah lainnya adalah interaksi sosial. Misalnya anda saling melambaikan tangan atau mengklakson pada seseorang yang naik motor berplat daerah sama. Anda mengobrol bersama orang lain. Anda bermain sepak bola bersama tim. Anda menghadiri pesta, dan lainnya. Umumnya orang menganggap yang dimaksud situasi sosial adalah hanya interaksi sosial ini, meski tentu saja interaksi sosial hanyalah bagian dari situasi sosial.
Ketiga, imajinasi akan adanya kehadiran orang lain. Termasuk dalam tipe ini adalah jika anda melamunkan kekasih, membayangkan sedang berada dirumah bersama saudara, atau mengingat kenangan-kenangan anda bersama seseorang atau kelompok orang. Pendek kata, semua lamunan, khayalan dan ingatan tentang orang lain yang mempengaruhi anda tercakup didalamnya.
Bagaimana dengan mimpi? Dalam mimpi seseorang mengingat atau mengkhayalkan seseorang. Namun demikian, mimpi tidak bisa dimasukkan dalam kategori sosial karena merupakan keadaan tidak sadar. Anda tidak bisa memprogram untuk mimpi persis seperti yang anda inginkan layaknya memutar video.
Keempat, adanya kehadiran orang lain melalui media tertentu yang anda ketahui dan kehadirannya mempengaruhi anda. Misalnya anda membaca
Apakah yang dimaksud interaksi sosial?
Interaksi sosial adalah keadaan dimana seseorang melakukan hubungan saling berbalas respon dengan orang lain. Aktivitas interaksinya beragam, mulai dari saling melempar senyum, saling melambaikan tangan dan berjabat tangan, mengobrol, sampai bersaing dalam olahraga. Termasuk dalam interaksi sosial adalah chatting di internet dan bertelpon atau saling sms karena ada balas respon antara minimal dua orang didalamnya.
Berdasarkan sifat interaksi antara pelakunya, interaksi sosial dibedakan menjadi dua, yakni interaksi yang bersifat akrab atau pribadi dan interaksi yang bersifat non-personal atau tidak akrab. Dalam interaksi sosial akrab terdapat derajat keakraban yang tinggi dan adanya ikatan erat antar pelakunya. Hal itu mencakup interaksi antara orangtua dan anaknya yang saling menyayangi, interaksi antara sepasang kekasih, interaksi antara suami dengan istri, atau interaksi antar teman dekat dan saudara.
Sebagian besar interaksi sosial manusia adalah interaksi sosial tidak akrab. Umumnya interaksi dalam situasi kerja adalah interaksi tidak akrab. Termasuk juga ketika anda mengobrol dengan orang yang baru saja anda kenal, interaksi antar sesama penonton sepakbola di stadion, interaksi dalam wawancara kerja, interaksi antara penjual dan pembeli, dan sebagainya.
Secara umum, ada dua bentuk interaksi sosial dalam suatu komunitas masyarakat, yaitu: (1) interaksi asosiatif, dan (2) interaksi disasosiatif. Dalam perspektif asosiatif, bentuk-bentuk interaksi sosial yang berlangsung dalam suatu komunitas atau masyarakat yang bisa diklasifikasikan kepada tiga jenis interaksi sosial, yaitu: (1) kerjasama, (2) akomodasi, dan (3) asimilasi. Kerjasama adalah bentuk interaksi sosial dimana individu bersama inidividu atau kelompok sosial melakukan suatu aktivitas untuk mencapai suatu tujuan bersama. Dalam masyarakat
Sama halnya dengan interaksi asosiatif, dalam perspektif disasosiatif, interkasi sosial juga bisa dibedakan ke dalam tiga bentuk, yaitu: (1) persaingan, (2) kontrovensi, dan (3) pertentangan. Persaingan merupakan salah satu bentuk interaksi sosial di mana individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan individu saling bersaing dalam rangka mencapai suatu tujuan atau keuntungan-keuntungan sosial dalam berbagai bidang atau aktivitas kehidupan. Meskipun dalam batas-batas tertentu persaingan bisa juga bernilai positif, seperti kompetisi yang sehat dan dinamis, namun dalam banyak kasus, persaingan seringkali menimbulkan ketegangan, bahkan permusuhan antar individu dan kelompok sosial. Dalam kenyataan empirik, baik individu maupun kelompok sosial, seringkali tidak mampu memanage persaingan untuk tujuan-tujuan yang positif yang dapat mendukung terciptanya tatanan sosial yang harmonis. Berbeda dengan persaingan, kontrovensi adalah bentuk interaksi sosial dimana individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan individu hidup berada dalam kondisi persaingan dan pertentangan dalam upaya mewujudkan tujuan-tujuan mereka. Dalam konstruksi sosial kontravensi, interaksi sosial antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan individu selalu berada dan diwarnai oleh persaingan dan konflik. Kekurangmampuan individu dan masyarakat dalam memanage persaingan dan konflik selalu berakibat pada disharmoni dalam interaksi sosial. Kemudian pertentangan adalah bentuk interaksi sosial di mana individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan individu hidup dalam kondisi saling menantang dalam upaya memenuhi atau mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dalam proses penantangan dan perlawanan tersebut, berbagai bentuk tekanan, ancaman, bahkan tindak kekerasan dilakukan oleh masing-masing pihak, baik individu maupun kelompok, (khususnya kelompok dominan) untuk memenuhi atau mencapai tujuan-tujuannya. Berbagai bentuk tekanan, ancaman, dan tindak kekerasan dalam interaksi penentangan inilah yang sering kali memunculkan konflik sosial dalam masyarakat.
Menurut teori Fungsionalisme Struktural Dahrendhorf, konflik dalam masyarakat terjadi dikarenakan adanya kepentingan-kepentingan yang bertentangan yang tidak dapat dicegah dan kepentingan-kepentingan tersebut cenderung berpolarisasi dalam dua kelompok yang saling bertentangan. Konflik tersebut pada gilirannya akan menciptakan ketidakserasian sosial dalam masyarakat. Menurut Sairin, ketidakserasian tersebut bersumber dari: (1) adanya perebutan sumber daya, alat-alat produksi, dan kesempatan ekonomi, (2) perluasan batas-batas kelompok sosial budaya, dan (3) benturan kepentingan politik, idiologi, dan agama
4.NORMALITAS SESEORANG DITANDAI DENGAN APA?
Penelitian ini untuk melihat hubungan antara motif berprestasi dengan depresi pada siswa SMAN I. Motif berprestasi adalah suatu dorongan yang ditampilkan dalam usaha untuk menyempurnakan atau mempertahankan kecakapan pribadi setinggi mungkin berdasarkan seperangkat kriteria-kriteria yang unggul dan untuk menjadi sukses dalam tugas. Motif berprestasi memilikilima karakteristik yaitu tanggung jawab pribadi atas hasil tugas di sekolah, membutuhkan umpan balik, inovatif, resiko pemilihan tugas dan tekun. Sedangkan depresi adalah gangguan yang terdapat pada seseorang ditandai oleh adanya gangguan suasana hati (mood) atau kehilangan minat atau kesenangan di hampir seluruh kegiatan. Penelitian ini bersifat korelasional yang dilakukan terhadap 60 siswa. Yang memiliki karakteristik antara lain berusia 16-17 tahun, aktif dan kelas dua SMA. Uji asumsi dalam penelitian ini yaitu uji normalitas dan uji linearitas. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov test, untuk skala motif berprestasi diperoleh nilai Z sebesar 0, 598 dan nilai signifikansi 0, 866 (P> 0,05). Sedangkan untuk skor depresi diperoleh nilai Z sebesar 0, 755 dan nilai signifikansi 0, 619 (P> 0,05). Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa sebaran skor kedua variabel penelitian yaitu persepsi karyawan terhadap budaya organisasi dan kepuasan kerja adalah normal. Hasil uji linearitas pada motif berprestasi dengan depresi menunjukkan hasil yang tidak linear, dimana skor F tes sebesar 0, 054 dan nilai signifikansi 0, 818 (P> 0,05). Untuk selanjutnya data penelitian dianalisis dengan menggunakan perhitungan statistik parametrik. Dengan menggunakan uji korelasi Spearman Rho, didapat koefisien korelasi (r) sebesar -0,077 dengan taraf signifikansi 0,280 (P>0,05) yang berarti bahwa terdapat hubungan tidak signifikan antara motif berprestasi dengan depresi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa hipotesis penelitian ini ditolak dan hal ini berarti tidak terdapat hubungan antara motif berprestasi dengan depresi.
Uji Normalitas
Uji normalitas merupakan langkah awal yang dilakukan untuk menganalisis data dalam menguji apakah data kedua kelompok eksperimen dan kontrol berdistribusi normal atau tidak.
Akan diuji pasangan hipotesis
: Data berdistribusi normal
: Data tidak berdistribusi normal
Untuk pengujian hipotesis dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan :
= Harga Chi-Kuadrat
= Frekuensi hasil pengamatan / observasi
= frekuensi yang diharapkan
= banyaknya inteval
Kriteria pengujian jika dengan derajat kebebasan dk = dan taraf signifikan 5 % maka data berdistribusi normal (Sudjana, 2002:273).
belajar, yaitu proses usaha seseorang yang ditandai dengan perubahan tingkah laku yang merupakan hasil dari pengalaman dan latihan dalam interaksinya dengan lingkunga
Di sekolah, perubahan tingkah laku ditandai dengan kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya, perubahan itu sering disebut prestasi belajar. Dan prestasi belajar merupakan hasil belajar yang biasanya dinyatakan dengan nilai. Nilai tersebut mestinya mencakup aspek kognitif, afektif, psikomotorik.n. Perubahan tingkah laku yang diperolehnya tersebut berupa pengetahuan dan keterampilan.
Melalui telaahnya atas kesadaran masyarakat eropa pada era pencerahan, Michel Foucoult menemukan bahwa manusia telah lama mati dalam sistem diskursif modernisme dan sedemikian rupa dimarjinalkan melalui oposisi antara normalitas dan abnormalitas, yang terjewantah dalam tersingkirnya kegilaan dari panggung peradaban modern lantaran dominannya kesadaran yang dirumuskan secara hegemonik oleh kekuasaan (wacana). Oleh Foucault, kenyataan ini disebutnya sebagai kematian manusia. (Al-Fayyadl, 2006:16). Artinya, pemaknaan atas simbol menurut Michel Foucault datang bersama kuasa, dimana ketika suatu kelompok, agen, atau pun seseorang melakukan praktik komunikasi, disana terdapat hasrat untuk menguasai kelompok, agen atau pun orang lain. Hal ini berimplikasi pada terciptanya kelompok yang berkuasa dan kelompok yang dikuasai, dimana kelompok yang berkuasa merupakan kelompok yang mempunyai modal pengetahuan (wacana) yang lebih besar untuk menafsirkan, menamakan dan mendefinisikan semesta simbol.